Jenderal Santri: Marbot Masjid yang Menjadi Pangdam Siliwangi Dekat dengan Rakyat

Di malam yang tenang setelah salat Isya, suasana sejuk menyelimuti Masjid Al-Falaq di Jakarta. Di dalam masjid, seorang remaja yang bertugas sebagai marbot tengah merapikan tikar salat dan menyapu lantai, sebelum menutup pintu masjid dengan hati-hati. Perutnya terasa lapar, ia melangkah perlahan menuju gerobak mie ayam “Pak Yanto” yang biasa buka di belakang masjid.
Peristiwa yang Mengubah Segalanya
Setelah menikmati semangkuk mie hangat, tiba-tiba seorang tentara muncul. Ia terlihat sangat lahap saat makan, namun setelah selesai, ia bangkit tanpa membayar sepeser pun. Pak Yanto, sang penjual mie, dengan sopan menagih bayarannya. Namun, situasi segera berubah menjadi mencekam. Sang tentara, dengan cepat mencabut sangkarnya dan menancapkannya ke gerobak mie ayam dengan keras.
Suasana di sekitar langsung menjadi hening. Remaja itu terpaku di tempatnya, jantungnya berdegup kencang. Dalam hati yang masih polos, ia berdoa sambil mengucap istigfar berulang kali. “Ya Allah, semoga suatu saat aku bisa menjadi tentara… tetapi tentara yang berbeda. Tentara yang mengayomi, melindungi, dan menolong rakyat, bukan yang menyakiti,” doanya yang tulus.
Doa yang Terkabul: Perjalanan Menjadi Jenderal Santri
Lima dekade kemudian, doa sederhana dari anak kampung itu telah menjadi kenyataan yang melampaui harapan. Mayor Jenderal TNI Kosasih, S.E., M.M., Panglima Kodam III/Siliwangi ke-47, kini duduk tenang di ruang rapat Makodam Siliwangi di Bandung. Dalam perbincangannya dengan awak media, ia mengingat kembali peristiwa malam itu dengan jelas. “Itu adalah momen yang membekas hingga kini,” ujarnya dengan nada penuh makna.
Akar Kehidupan dan Harapan Orang Tua
Remaja yang bernama Kosasih ini lahir pada 2 April 1971 di Pandeglang, Banten, dari pasangan Ustaz H. Jufran Efendi (almarhum) dan Hj. Siti Khadijah (almarhumah). Ia adalah anak keempat dari enam bersaudara. Orang tuanya memiliki harapan yang besar, menginginkan Kosasih menjadi ustadz dan melanjutkan pendidikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta.
Nama “Kosasih” diambil dari sosok R.A. Kosasih, Pangdam Siliwangi periode 1958–1960, seorang perwira yang dikenal berwibawa dan dekat dengan rakyat. Doa dan harapan kedua orang tuanya kini terwujud dalam bentuk yang indah. Kosasih tumbuh sebagai anak desa sejati, menghabiskan waktu bermain di sawah, mandi dan berenang di sungai, serta memanjat pohon sambil mengumpulkan pasir untuk dijual demi mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Pendidikan dan Karier Militer
Kosasih menjalani pendidikan di lingkungan yang kental dengan nilai-nilai agama dan kedisiplinan. Ia menyadari pentingnya pendidikan dan mulai berusaha untuk mencapai cita-citanya. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, ia melanjutkan ke pendidikan menengah, di mana ia aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung kepemimpinan dan kerjasama.
Memasuki Dunia Militer
Setelah lulus dari SMA, Kosasih memilih untuk mengikuti pendidikan militer. Ia mendaftar di Akademi Militer, dan melalui perjuangan yang tak mudah, ia berhasil diterima. Selama di akademi, ia menunjukkan potensi yang luar biasa, baik dalam kepemimpinan maupun dalam bidang strategi militer.
Setelah lulus, Kosasih mulai meniti karier di TNI, di mana ia ditempatkan di berbagai posisi strategis. Keberaniannya dan dedikasinya terhadap tugas membuatnya cepat dikenal di kalangan rekan-rekannya.
Pencapaian dan Penghargaan
Seiring berjalannya waktu, Kosasih mendapatkan berbagai penghargaan atas pengabdiannya. Ia terlibat dalam berbagai operasi militer, baik di dalam maupun luar negeri, menunjukkan keahliannya dalam manajemen krisis dan diplomasi militer. Selain itu, ia juga dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap masyarakat, selalu berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan warga di daerah tempat ia bertugas.
Jenderal Santri: Simbol Harapan
Dengan latar belakangnya sebagai seorang santri, Kosasih menjadi simbol harapan bagi banyak orang. Ia membuktikan bahwa seorang jenderal bisa sekaligus menjadi sosok yang dekat dengan rakyat. Melalui berbagai program sosial yang digagasnya, ia berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama di daerah-daerah yang kurang terlayani.
- Menjalankan program pendidikan untuk anak-anak di daerah terpencil.
- Mendukung pelatihan keterampilan bagi kaum muda.
- Melibatkan diri dalam kegiatan kemanusiaan saat bencana terjadi.
- Memfasilitasi dialog antara militer dan masyarakat untuk menciptakan rasa saling percaya.
- Berinvestasi dalam infrastruktur yang mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
Refleksi dan Harapan di Masa Depan
Hari ini, Mayor Jenderal TNI Kosasih tidak hanya dikenal sebagai Pangdam Siliwangi, tetapi juga sebagai sosok yang merangkul nilai-nilai kemanusiaan dan kedamaian. Dia percaya bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari prestasi militer, tetapi juga dari seberapa besar dampak positif yang bisa diberikan kepada masyarakat.
Dalam setiap kesempatan, Kosasih selalu menekankan pentingnya kolaborasi antara militer dan sipil. Ia berharap agar generasi muda mau terlibat aktif dalam menciptakan perubahan positif di masyarakat. “Kita semua memiliki tanggung jawab untuk membangun bangsa ini,” ujarnya dengan penuh semangat.
Dalam perjalanan hidupnya, Kosasih mengingat kembali doa yang pernah ia ucapkan sebagai seorang remaja. Kini, sebagai Jenderal Santri, ia bertekad untuk terus melindungi dan mengayomi rakyat, mewujudkan cita-cita yang pernah ia impikan. Sosoknya menjadi inspirasi bagi banyak orang, menunjukkan bahwa dengan tekad dan kerja keras, impian dapat menjadi kenyataan.
➡️ Baca Juga: Kebiasaan Sehat Harian untuk Menjaga Stabilitas Tekanan Darah Anda
➡️ Baca Juga: Mitsubishi Siapkan Filipina Sebagai Pusat Produksi Mobil Hybrid Sejak 2028




