Thailand Mengimplementasikan Kebijakan Penghematan Energi Seiring Kenaikan Harga Minyak
Thailand menghadapi tantangan besar dengan adanya eskalasi konflik di Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga minyak dunia. Untuk mengatasi kondisi ini, pemerintah Thailand di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Anutin Charnvirakul, telah mengumumkan serangkaian kebijakan penghematan energi. Kebijakan ini ditujukan untuk instansi pemerintah dan perusahaan milik negara, dan dirancang untuk memastikan keamanan energi di negeri gajah putih ini.
Kebijakan Penghematan Energi Thailand
Salah satu langkah yang ditempuh pemerintah Thailand adalah penerapan kerja jarak jauh bagi pegawai negeri sipil. Ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi energi yang disebabkan oleh perjalanan ke tempat kerja. Penerapan ini juga diharapkan dapat membantu dalam memitigasi dampak dari kenaikan harga minyak.
Perdana Menteri Thailand telah memberikan instruksi kepada semua instansi pemerintah dan perusahaan untuk segera menerapkan kebijakan ini. Langkah ini diambil mengingat bahwa tugas-tugas sebagian besar pegawai negeri tidak berdampak langsung pada penyediaan layanan publik, sehingga dapat dilakukan dari rumah.
Sebagai tambahan, perjalanan dinas luar negeri yang dibiayai oleh pemerintah Thailand untuk para pegawai, baik untuk tujuan pendidikan maupun magang, telah ditunda. Semua kegiatan tersebut sekarang harus dilakukan di dalam negeri.
Program Penghematan Energi yang Lebih Luas
Pemerintah Thailand juga sedang merancang program penghematan energi yang lebih luas untuk periode ke depan. Salah satu rencana yang sedang dikembangkan adalah penutupan harian stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mulai pukul 22.00 hingga 06.00 waktu setempat.
Langkah ini diambil karena Timur Tengah merupakan pemasok energi terbesar di dunia dan konflik yang sedang berlangsung di sana menyebabkan fluktuasi harga minyak dan energi global secara konsisten. Dengan demikian, penanganan krisis energi menjadi prioritas utama bagi pemerintah Thailand.
Sebagai bagian dari upaya ini, pemerintah Thailand juga sedang meninjau proposal dari kementerian energi setempat untuk memperkenalkan langkah-langkah penghematan yang lebih ketat jika situasi semakin memburuk.
Konsumsi Minyak di Thailand
Permintaan rata-rata harian di Thailand untuk produk minyak saat ini mencapai sekitar 32,7 juta galon. Sedangkan total cadangan minyak di Thailand per tanggal 5 Maret tercatat sekitar 2,1 miliar galon, yang memerlukan sebagian besar minyak mentah impor.
Langkah Konservatif untuk Gedung Perkantoran Publik
Kementerian Energi Thailand telah mengusulkan beberapa langkah konservatif untuk gedung perkantoran publik. Langkah-langkah ini termasuk:
- Mengatur suhu pendingin udara pada 25–26 derajat Celsius.
- Mendorong penggunaan pakaian lengan pendek daripada jas dan dasi kecuali pada acara resmi.
- Mengurangi konsumsi listrik.
- Mematikan lampu dan peralatan yang tidak digunakan.
- Menggunakan pengaturan hemat energi pada komputer dan mematikan komputer saat tidak digunakan.
- Membatasi penggunaan lift.
Pemerintah juga memerintahkan langkah-langkah penghematan bahan bakar untuk kendaraan pemerintah, seperti memantau konsumsi bahan bakar, mengemudi dengan hemat, dan mendorong penggunaan kendaraan bersama di antara PNS Thailand.
Menghemat Energi Nasional
Departemen hubungan masyarakat di kantor perdana menteri diminta untuk berkoordinasi dengan saluran televisi, stasiun radio, dan platform media sosial untuk menghemat energi nasional jika krisis memburuk.
Meski demikian, pemerintah Thailand saat ini menjaga harga bensin dan solar tidak naik melalui subsidi Dana Minyak Nasional, yang mulai berlaku sejak awal Maret selama 15 hari. Namun, belum ada keputusan apakah program ini akan diperpanjang atau tidak.
➡️ Baca Juga: Google Menandai Aplikasi Android yang Menguras Baterai Secara Berlebihan
➡️ Baca Juga: Ulasan Realme 16 Pro+ 5G: Kehadiran Kembali Fitur Kamera Flagship dalam Seri Number