Optimalisasi MBG: Penelitian UI Ungkap Manfaat Membuat Murid Lebih Solid dan Meringankan Beban Orang Tua

Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa optimalisasi Program Makanan Bergizi (MBG) di sekolah telah mampu meningkatkan solidaritas antara siswa dan guru serta meringankan beban orang tua, khususnya di kalangan menengah ke bawah. Riset yang dilakukan oleh Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia dan Research Institute of Socio-Economic Development ini menunjukkan bahwa MBG tidak hanya memberikan manfaat kesehatan, tetapi juga manfaat sosial dan ekonomi yang signifikan.

Hasil Penelitian

Penelitian ini melibatkan 30 sekolah dan 1.267 partisipan yang terdiri dari siswa, guru, orang tua, dan pengelola dapur MBG di lima wilayah, yaitu Kota Kupang, Kota Depok, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Pesisir Selatan. Hasilnya menunjukkan bahwa lebih dari 70% orang tua melaporkan bahwa anak mereka menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, dan lebih dari setengahnya menyatakan anak mereka lebih terbuka untuk mencoba berbagai jenis makanan baru. “Hasil riset ini sangat menggembirakan karena menunjukkan tingginya tingkat penerimaan masyarakat, khususnya di kalangan ekonomi menengah ke bawah,” ungkap Hari Nugroho, Ketua LabSosio-LPPSP FISIP UI.

Manfaat Program MBG

Program MBG terbukti memperkuat solidaritas dan semangat belajar siswa di sekolah. Menurut sosiolog Musni Umar, program ini tidak hanya membantu memastikan siswa mendapatkan asupan gizi yang cukup, tetapi juga berperan dalam membangun interaksi sosial dan meningkatkan semangat belajar di lingkungan sekolah. “MBG di sekolah bisa menciptakan kesetaraan, kebersamaan, dan kedekatan satu sama lain. Selain itu, siswa bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan nyaman karena tidak merasa lapar,” jelas dia.

Program ini juga telah mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang menyebut MBG sebagai fondasi baru pendidikan bermutu di Indonesia.

Pentingnya Perbaikan Program

Meskipun program ini telah memberikan banyak manfaat, masih ada beberapa persoalan yang perlu diperbaiki. Musni Umar menekankan pentingnya perbaikan ini agar program dapat berjalan dengan lebih efektif dan efisien. Toni Toharudin, Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, juga berpendapat serupa. Menurutnya, program MBG tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada budaya sekolah.

Budaya Sekolah yang Positif

Menurut Toni, kegiatan makan bersama menciptakan ruang interaksi sosial yang lebih inklusif dan memperkuat kebersamaan antara siswa. “Kegiatan makan bersama menjadi sarana pembelajaran karakter yang alami. Siswa belajar disiplin, menjaga kebersihan, dan menghargai makanan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus melalui pendekatan formal, tetapi dapat tumbuh melalui pengalaman keseharian yang dirancang secara bermakna,” tegas Toni.

MBG membuka peluang bagi sekolah untuk membangun budaya belajar yang sehat dan positif. Aktivitas makan bersama menciptakan momen non-formal yang mempertemukan siswa dan guru dalam suasana yang lebih setara dan humanis. Interaksi semacam ini memperkuat rasa aman psikologis (psychological safety) yang menjadi fondasi penting bagi pembelajaran mendalam. “Ketika siswa merasa dihargai dan terhubung secara sosial, mereka cenderung lebih berani bertanya, bereksplorasi, dan terlibat aktif dalam proses belajar,” kata Toni.

Optimalisasi MBG bukan hanya tentang memberikan makanan bergizi kepada siswa, tetapi juga tentang membangun komunitas sekolah yang sehat, inklusif, dan kolaboratif. Dengan pendekatan yang tepat, program ini dapat terus memberikan manfaat yang meluas kepada semua pihak yang terlibat.

➡️ Baca Juga: 9 Inspirasi THR Lebaran untuk Anak: Kreatif, Unik, dan Praktis untuk Ditiru

➡️ Baca Juga: <i>Update</i> Harga Emas Antam Hari Ini Naik Lagi, Cek Rinciannya!

Exit mobile version