Proyeksi IHSG Akhir Bulan Ini di Tengah Gejolak Pasar Timur Tengah yang Mencemaskan

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan mengalami tekanan di penghujung Maret ini, seiring dengan meningkatnya ketidakpastian di pasar global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketidakpastian geopolitik ini mengakibatkan para investor mengadopsi sikap risk-off, yang berarti mereka cenderung mengurangi investasi pada aset berisiko seperti saham di negara berkembang.
Penyebab Tekanan pada IHSG
Ketegangan yang terjadi juga berpotensi menyebabkan lonjakan harga energi dan gangguan dalam rantai pasok global. Hal ini dapat memicu inflasi yang lebih tinggi dan memberikan dampak negatif terhadap kinerja emiten di bursa saham. Dalam jangka pendek, pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik yang ada, menunjukkan kecenderungan volatilitas dan kemungkinan pelemahan selama sentimen eksternal tetap mendominasi.
Analisis dari MNC Sekuritas
Herditya Wicaksana, analis dari MNC Sekuritas, mengungkapkan bahwa potensi pelemahan IHSG tidak lepas dari koreksi yang terjadi di sebagian besar bursa global dan Asia, yang menjadi salah satu faktor sentimen negatif. Selain itu, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya keterlibatan kelompok Houthi dari Yaman, turut berkontribusi pada kenaikan harga minyak mentah yang mengancam pergerakan IHSG.
Proyeksi IHSG untuk Hari Selasa
Herditya memproyeksikan bahwa IHSG berpotensi mengalami koreksi pada perdagangan yang berlangsung pada hari Selasa (31/3), dengan level support di 7.053 dan resistance di 7.118. Angka-angka ini menjadi patokan penting bagi para investor dalam memantau pergerakan indeks saham di pasar.
Pergerakan IHSG Sebelumnya
Pada hari Senin (30/2), IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup dengan penurunan 5,39 poin atau 0,08 persen, berada di posisi 7.091,67. Penurunan ini mengikuti tren negatif yang terjadi di bursa saham Asia, di mana pelaku pasar mencermati eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Sementara itu, indeks LQ45 yang mencakup 45 saham unggulan juga mengalami penurunan sebesar 1,47 poin atau 0,20 persen, berakhir di 717,49.
Dampak Geopolitik terhadap Pasar Saham
Indeks saham di Asia pada hari Senin sore menunjukkan pelemahan seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang telah memasuki minggu kelima. Meskipun telah ada upaya untuk menemukan solusi diplomatik, situasi tetap menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor, seperti yang tercermin dalam kajian dari Tim Riset di Phillip Sekuritas Indonesia.
Keterlibatan Houthi dalam Konflik
Terkait dengan konflik yang lebih luas, kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menembakkan rudal ke Israel. Hal ini menandai keterlibatan langsung mereka dalam perang yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran. Dalam pernyataan di platform X, juru bicara Houthi, Yahya Saree, mengungkapkan bahwa kelompok tersebut telah meluncurkan serangan rudal ke lokasi-lokasi militer yang dianggap sensitif di Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran dan Hizbullah di Lebanon.
Konflik yang Berkepanjangan
Serangan tersebut merupakan eskalasi lebih lanjut dari konflik yang dimulai dengan serangan udara yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada tanggal 28 Februari 2026. Situasi ini semakin mempersulit upaya untuk mencapai resolusi damai dan menambah ketidakpastian di pasar keuangan.
Langkah Mitigasi dari Pemerintah
Di dalam negeri, pemerintah tengah merancang skema efisiensi anggaran dan metode kerja dari rumah (WFH) sebagai langkah mitigasi untuk meminimalisir dampak dari kenaikan harga minyak mentah terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta ekonomi domestik. Tiga sektor yang dianggap paling rentan terdampak antara lain stabilitas energi, rantai pasok global, dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Strategi Penghematan Energi
Beberapa langkah yang diusulkan untuk mengurangi ketergantungan pada impor migas mencakup penghematan energi serta penguatan mandat penggunaan Biodiesel 50 persen (B50). Kebijakan ini diharapkan dapat menghindari kenaikan harga BBM subsidi yang dapat berdampak luas terhadap inflasi dan mencegah pelebaran defisit APBN.
Kenaikan BBM Nonsubsidi
Meskipun demikian, untuk BBM nonsubsidi, diperkirakan akan ada potensi kenaikan saat penyesuaian harga bahan bakar diumumkan pada 1 April 2026. Hal ini menjadi perhatian bagi banyak pihak, terutama investor yang memantau pergerakan IHSG dan dampaknya terhadap sektor-sektor terkait.
Pergerakan IHSG di Sesi Perdagangan
Pada hari perdagangan yang dibuka dengan pelemahan, IHSG tetap berada di teritori negatif hingga penutupan sesi pertama. Sesi kedua menunjukkan bahwa IHSG masih terjebak di zona merah hingga akhir perdagangan.
Indeks Sektoral IDX-IC
Berdasarkan data dari Indeks Sektoral IDX-IC, terdapat tujuh sektor yang mengalami penguatan, di mana sektor energi memimpin dengan kenaikan sebesar 2,31 persen. Diikuti oleh sektor transportasi & logistik dan sektor barang konsumen non-primer yang masing-masing naik sebesar 1,45 persen dan 1,23 persen.
Sektor yang Melemah
Di sisi lain, terdapat empat sektor yang mengalami penurunan, dengan sektor keuangan mencatat penurunan paling dalam sebesar 1,28 persen. Sektor barang baku dan sektor properti juga mengalami penurunan, masing-masing sebesar 0,56 persen dan 0,48 persen.
Dengan segala dinamika yang terjadi, proyeksi IHSG ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah dan respons pasar terhadap kebijakan pemerintah dalam menghadapi tantangan yang ada. Investor diharapkan tetap waspada dan melakukan analisis yang mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.
➡️ Baca Juga: Rapat Dengar Pendapat Digelar oleh Komisi IV DPRD Provinsi Lampung
➡️ Baca Juga: Gunung Semeru Mengalami Empat Kali Erupsi pada Hari Kamis yang Lalu



